KANCIL BUAYA DAN TUPAI


Pada suatu hari kancil dan tupai sedang berjalan namun ditengah perjalan mereka bertemu dengan induk sapi yang lagi bersedih.
ada apa bu sapi kok bersedih kata kancil....
anu cill. anaku lagi sakit keras bilang tabib kera hanya hati buaya yang bisa mengobati anakku tersebut cil. sambil menangis ibu sapi menceritakan tentang penyakit anaknya.
sabarya bu kata tupai, aku akan berusaha sekuat membantu ibu. karena ibu sapi pernah menolongku dari serangan ular piton, kata tupai...
tapi bagaimana ya cil caranya. tupai bertanya sambil memegang kepalanya.....
kancil tanpak diam sejenak...kemudian......
aku ada ide.....ayo ikut aku ke pohon kelapa dekat sungai yang ada buayanya.....
ayo cil kata tupai...aku selalu yakin dengan ide-idemu kata tupai.....
aku juga ikut ya cil, kata ibu sapi lagi...
baiklah bu, tapi melihatnya jauh-jauh aja yach bu...biar buaya tidakK curiga......
setelah sampai ditempat tujuan. kancil berkata kamu bisa menyelamkan pai....
tentu saja aku bisa...aku sudah berlatih dan tahan setengah jam lo cil jawab tupai.....
beigini pai, kamu ambil sebuah kelapa tua yang kecil tapi muat untuk badanmu..lalu ka lubangi...
tanpa banyak bertanya tupai segera bertindak dan....
sudah cil kata tupai.....
masuk kedalam kelapa itu pai dan bawa kantong daun kecubung ini. nanti ketika sudah disungai kau keluarkan ekormu dan goyang-goyangkan...
maka rencana mulai mereka jalankan....
ketika kelapa yang berisi tupai itu masuk ke air dan ekor tupai tupai bergoyang-goyang. maka benar saja tiba-tiba ada buaya besar yang langsung menyambar kelapa tersebut...
setelah didalam perut buaya tupai segera mengerat sedikit hati buaya dan membuka kantong yang berisi daun kecubung tersebut.
karena reaksi daun kecubung diperut buaya maka buaya tersebut tampak kepayahan dan segera kedarat lalu mumuntahkan kelapa yang berisi tupai tersebut.
setelah keluar tupai segara berlari menuju ke kancil, sedangkan buaya tampak kepayahan menahan pusing dan sakit perutnya.
setelah itu kancil, tupai dan ibu sapi bergegas menuju tabib kera untuk menyerahkan secuil hati buaya tersebut.
beruntung kalian datang tepat waktu, segaera makankan hati buaya tersebut pada anak sapi....
ajaib setelah hati tersebut dimakan anak kancil itu menjadi sehat dan terlihat senyum diwajahnya.
melihat hal terebut induk sapi merasa senang, dan mengucapkan terima kasih kepada kancil dan tupai......

siapa yang menanam budi dia akan menuai manfaat kebaikan
ReadmoreKANCIL BUAYA DAN TUPAI

LEGENDA BALIKPAPAN (SUKU BALIK)


Di zaman dahulu kala di Kalimantan hiduplah suatu kaum yang dikenal dengan nama suku Balik, suku itu dipimpin oleh seorang kepala suku yang sangat bijaksana dan adil. Kepala suku itu memiliki seorang anak yang bernama pangeran Surya. Pangeran Surya adalah anak yang cerdas serta berbudi luhur. Sehingga baik kepala suku maupun anaknya sangat dicintai oleh rakyatnya.

Pada suatu hari datanglah rombongan yang berasal dari suku kenyah dan berniat untuk menikahkan putri mereka yang bernama Nirmala yang mengenakan topeng burung enggang sehingga orang mengira dia adalah putri yang buruk rupa.

Walaupun mendengar putri yang akan dinikahinya berwajah buruk tapi surya tetap menuruti permintaan ayahnya. Karena mereka telah dijodohkan semenjak masih kecil oleh orang tua mereka.

Pada suatu hari ketika Surya dan putri Nirmala sedang berjalan jalan di puncak bukit, tiba-tiba datanglah angin topan yang membawa Surya ke sebuah pulau yang belum pernah dijumpainya.

Sepeninggal Surya putri Nirmala sangat sedih karena kehilangan pangeran yang sangat dicintainya. Tetapi bukan hal nya dengan kepala suku kenyah yang menuduh pangeran surya sengaja melarikan diri dengan menggunakan kekuatan angin yang merupakan nenek moyang suku Balik. Kepala suku kenyahpun mengancam akan menyerang suku Balik apabila pangeran surya tidak kembali dalam waktu tujuh hari.

Sedangkan dipulau terpencil pangeran surya melakukan perjalanan yang tidak tentu arah untuk pulang ke desanya , didalam perjalanan pulang dia mendengar suara minta tolong, setelah didekati ternyata suara itu adalah seekor orang utan tua yang tertindis dahan pohon. Pangeran Surya segera menolong orang utan itu dan setelah bebas dari tindisan dahan pohon itu orang utan itupun memberikan bibit pohon kepada pangeran Surya seraya berpesan agar ditanam ketika ia membutuhkanya dengan terlebih dahulu mengucapkan tumbuh-tumbuh meranti, tumbuh-tumbuh meranti.

Pangeran surya pun melanjutkan perjalanannya, di tengah jalan dia dikejutkan oleh seorang nenek tua renta dan meminta tolong untuk diambilkan buah kelapa muda, tetapi pohon kelapa itu sangat tinggi, tingginya sepuluh kali pohon kelapa biasa. Pangeran Suryapun menyanggupi membantu nenek tua tersebut. Dengan bersusah payah pangeran Surya akhirnya bisa memetik buah kelapa yang diinginkan nenek tua tersebut. Setelah melepas dahaga dengan meminum air kelapa nenek tua itu memberikan sebilah mandau kecil dan beranjak pergi, seraya berkata gunakanlah jika kamu membutuhkannya dengan mengucapkan papan-papan belah, papan-papan belah.

Kembali pangeran surya berjalan dan lagi-lagi ia mendengar suara seekor burung enggang merintih kesakitan, karena sayapnya terluka tertusuk duri semak tempat dia hinggap, pangeran Surya pun bergegas memberikan pertolongan kepada burung enggang tersebut dan membalut lukanya dengan daun pandan. Burung enggang pun berterimakasih kepada pangeran surya dan memberikan sebuah bulu sayapnya seraya berkata gunakanlah jika kau membutuhkannya dan ucapkanlah Balik-Balik ke Balik, Balik-Balik ke Balik.

Pengeran Suryapun melanjutkan perjalanannya, dan diujung perjalanannya dia sampai dipinggir pantai dan merenung bagaimana dia harus menyeberang lautan yang seolah tak bertepi tersebut. Namun tiba-tiba dia teringat pesan orang utan tua yang ditolongnya, segera pangeran Surya mengeluarkan bibit pohon itu seraya mengucapkan tumbuh-tumbuh merantu, tumbuh-tumbuh meranti. Ajaib bibit pohon itu berubah menjadi pohong yang sangat besar. Tetapi pangeran surya menjadi bingung untuk apa pohon sebesar itu.

Pangeran surya pun kembali teringan akan pemberian sebilah mandau dari nenek tua, segera pangeran Surya mengayunkan mandau tersebut kearah pohon itu seraya berkata papan-papan belah, papan-papan belah. Dan kembali terjadi keajaiban pohon itu terbelah dan menjadi potongan kayu lebar tipis yang kita kenal sekarang ini dengan sebutan papan.

Pangeran surya segera mendorong papan itu ke laut dan mengeluarkan bulu enggang dan nenancapkannya didepan potongan kayu itu seraya berkata Balik-balik ke balik, Balik-balik ke Balik. Bulu enggang itu pun membesar dan menjadi layar . Pangeran surya pun berlayar menuju kampung halaman dengan dibantu bulu enggang sebagai penuntun arah.

Dilain tempat dipinggirpantai dua suka yang semula bersahabat hendak berperang, ratusan prajurit kenyah dengan gagahnya bersiap-siap hendap menyerang suku balik, tetapi ketika serangan hendak dilakukan tiba-tiba terdengar suara teriakan nyaring dari laut yang ternyata adalah pangeran Surya. Putri Nirmala yang ikut serta dalam rombongan ayah nya segera berlari dan memeluk pangeran surya seraya berkata aku selalu yakin bila kau akan kembali untukku sembari membuka topengnya, ternyata putri Nirmala adalah seorang putri yang sangat cantik jelita.

Akhirnya peperangan dapat dicegah dan hari itu pula pangeran Surya dan putri Nirmala dinikahkan. Adpaun kepala suku kenyah menerima penjelasan dari pangeran surya dan mengganti nama Suku Balik menjadi Balikpapan yang sekarang dikenal dengan nama Kota Balikpapan.
ReadmoreLEGENDA BALIKPAPAN (SUKU BALIK)

DONGENG KUCING DAN BERUANG

Pada zaman dahulu kala nenek moyang kucing dan beruang adalah dua sahabat karib yang selalu berbagi, kemana-mana mereka selalu bersama sampai pada suatu ketika beruang mengutarakan maksudnya untuk belajar memanjat kepada kucing

kucingpun menyanggupi permintaan beruang dan mencari pohon tinggi untuk beruang. wang ini loh pohon yang cocok untuk kamu belajar memanjat "kata kucing". sembarang aja cing, yang penting aku bisa memanjat "kata beruang".

lau kucingpun memberi contoh kepada beruang cara memanjat pohon tersebut, yang penting kuku-kukumu kuat mencengkeram batang pohon ini kau akan bisa memanjat pohon ini wang "kata kucing".

cukup teorinya cing sekarang kamu turun biar aku yang memanjat' kata beruang". kucingpun segera turun.

beruangpun segera memanjat pohon dan ternyata dengan gampangnya ia dapat mencapai puncak pohon tersebut. tetapi sesampai diatas ia bingung untuk turun dan berkata "cing gimana cara turunnya "kata beruang".

belum sempat berkata apa-apa tiba-tiba terlihat sosok serigala yang siap memangsa kucing dari balik rimbunan semak belukar, kucingpun segera berlari meninggalkan beruang yang kebingungan.

merasa dikerjai kucing beruang pun marah dan berkata " awas kamu cing, ngak ku maafkan, kamu akan kukoyak-koyak dan kotoranmu pun bahkan akan kumakan cing. dan beruang pun turun dengan menjatuh kan dirinya sambil tetap memeluk pohon.

oleh sebab itu sampai dengan sekarang bila kucing buang kotoran di tanah akan membuat lubang dan menutupnya kembali, agar tak dimakan beruang.

sedangkan beruang bisa memanjat pohon tetapi ketika turun ia akan memerosotkan badannya kebawah.
ReadmoreDONGENG KUCING DAN BERUANG

KANCIL DAN SERIGALA (KOLAM DEWA)

Seperti biasanya setiap pagi kancil berjalan-jalan di pinggiran hutan untuk mencari timun hutan yang tumbuh subur, hari ini aku beruntung mendapatkan timun yang besar sekali (kata kancil sembari melahap timun yang ditemukannya).

ketika sedang asyik melahap timun tersebut tiba-tiba terdengar suara menggeram dari belakang pohon beringain yang sangat besar. aduh itu pasti suara srigala yang lagi mencari makan, ketika kancil hendak beranjak pergi tiba-tiba srigala sudah berada dihadapannya dan siap menerkan sikancil.

wah rezeki nomplok nih. kebetulan lagi lapar nih. siap-siap cil ucapkan doa terakhirmu sebelum kumakan "kata srigala'. jangan dulu "kata kancil. kalau kamu makan aku, kamu akan kehilangan sebuah rahasia mengenai kolam pemandian dewa-dewa, bila kamu mandi dikolam itu maka semua srigala betina akan tegila-gila kepadamu "kata kancil".

Wah sayik kalau yang kamu katakan itu benar cil. dimana kolam itu cil "sahut Srigala".
disana dibelakang rumah pak tani, dibawah bukit dekat pohon kelapa. kata kancil.
dimana rumah pak tani itu cil. "kata Srigala. aku bersedia mengantarkanmu asal kamu berjanji tidak akan memakanku "jawab kancil" serius. iya cil ayo kita menuju kesana cil "kata srigala.

maka berjalanlah kancil dan serigala menuju sebuah bukit yang dibawahnya ada sebuah kolam yang airnya berwarna kekuningan terkena sinar lembayung dari matahari. itu kolamnya kamu harus berlari menuruni bukit kearah kolam itu sambil menutup mata "kata kancil".

tanpa pikir panjang lagi srigala menutup mata dan berlari kearah kolam tersebut, dan byur srigala menceburkan dirinya kedalam kolam tersebut. tapi apa yang terjadi tenyata srigala muntah-muntah dan lemas didalam kolam tersebut. karena ternyata kolam itu adalah kolam pembuangan limbah WC paktani. sambil berlari keluar dan muntah-muntah serigala mengumpat. "awas kau cill kalau ketemu aku lain kali akan kumakan kamu cill "kata srigala.

Rasain loo kata kancil sambil berlari meninggalkan srigala yang tampak loyo. karena seluruh badannnya bau sekali...........
ReadmoreKANCIL DAN SERIGALA (KOLAM DEWA)

KANCIL DAN HARIMAU ( SABUK DEWA )

Pada suatu hari Kancil sedang berjalan-jalan di hutan, ketika sedang asik berjalan-jalan sambil makan rumput tiba-tiba Kancil dikagetkan dengan sura auman di depannya, ternyata itu adalah seekor Harimau yang tampaknya sedang kelaparan.

Auuummm!!! Hari ini nasibku baik sekali, perutku lagi kroncongan ehh ketemu Kancil sebagai makan siangku. Hei Kancil siap-siap ku makan nih, Aummmmmmmmm!!!.

Eittt! Tunggu Dulu Harimau, kalau kamu makan aku, kamu akan kehilangan cerita rahasia sabuk sang dewa, siapa yang memakainya akan bisa terbang dan kuat seperti dewa. Mau ngak bisa terbang dan kuat seperti dewa pasti kamu jadi raja hutan seperti selama ini yang kamu idam-idam kan, mau ngak ???? “ kata Kancil”.

Benar nih Cill, kamu ngak akan ku makan asal kamu beri tahu dimana letak sabuk dewa itu. “kata harimau”.

Benar dong, ayo ikut aku ke batu besar dipinggir sungai dekat rumpun bambu di selatan hutan. “kata Kancil”.

Merekapun segera berjalan menuju pinggir sungai di selatan hutan, ketika sampai ditujuan tampak sebuah benda berwarna cokelat hitam melingkar di sebuah batu besar menyerupai sebuah sabuk.

Harimaupun mengaum panjang, Aummmmmmm!!! Bergerak hendak menerjang benda tersebut.

Eitt ! Tunggu dulu Harimau, kalau kamu mau memakai sabuk dewa tersebut kamu harus berjalan mundur kearah sabuk tersebut dan jangan sekali-kali menengok ke belakang, agar dewa pemilik sabuk itu tidak mengetahui kehadiran mu kan mereka sedang asik mandi di sungai. “kata kancil”

Benar juga katamu Cil, habis sabuknya besar sekali sih jadi aku ngak sabar untuk memakainya. “Kata Harimau”

Oke deh! Harimau, sekarang kamu boleh berjalan mundur kearah sabuk itu. Tapi sebelum itu aku hitung dulu yach aku mau sembunyi takut nanti dimarahi dewa kalau melihatku. “kata Kancil “.

Cepat hitung Cil, aku sudah ngak sabar mau jadi raja hutan nih.!!!

Ok ku hitung yach, “kata Kancil” (Ajak anak anda ikut berhitung)!!!! 1.2.3. udah kah belum (kata Harimau), belum (Kata kancil sambil berlari meninggalkan harimau) 4.5.6.7 (udahkan belum), (Belum) 8.9.10 (sudahkah belum) (sudah teriak kancil yang sudah jauh meninggalkan Harimau)…………

Tanpa berpikir panjang Harimau pun segera berjalan mundur menuju kearah benda yang menyerupai sabuk tersebut. Dan ketika tubuhnya memasuki kedalam lingkaran tersebut tiba-tiba benda tersebut bergerak melilit tubuh Harimau. Harimau tampak senang karena dalam pikirannya sabuk tersebut sedang bereaksi memberi kekuatan ke tubuhnya, tapi tiba-tiba lilitan itu semakin lama semakin kuat dan membuat harimau kesakitan. Dan alangkah kagetnya Harimau ketika dihadapannya muncul kepala ular piton raksasa di depannya. Harimaupun berteriak minta tolong dan menggeram “Awas kamu cill, kamu telah membohongi ku. Ternyata benda ini bukan sabuk dewa tapi ular piton raksasa”” tapi teriakan minta tolong itu tampaknya sia-sia belaka. Karena ular piton itu terlampau besar dan akhirnya matilah Harimau tesebut dengan tulang-tulang yang remuk.

Adapun Kancil yang nyawanya terselamatkan karena kecerdikannya memulai petualangan barunya di belantara hutan.
ReadmoreKANCIL DAN HARIMAU ( SABUK DEWA )

Free Printable Tweety Bird Coloring Pages For Kids

Free Printable Tweety Bird Coloring Pages For Kids

This Image was ranked 1 by Bing.com for keyword Child Coloring , You will find this result http://www.bing.com/images/search?q=Child+Coloring+&qft=+filterui:imagesize-large&count=100.

IMAGE META DATA FOR Free Printable Tweety Bird Coloring Pages For Kids\'s IMAGE
TITLE:Free Printable Tweety Bird Coloring Pages For Kids
IMAGE URL:http://www.bestcoloringpagesforkids.com/wp-content/uploads/2013/06/Tweety-Bird-Coloring-Pages.gif
THUMBNAIL:http://ts4.mm.bing.net/th?id=HN.607989252794877344&w=109&h=148&c=7&rs=1&pid=1.7
IMAGE SIZE:36 kB
IMAGE WIDTH:868
IMAGE HEIGHT:1170
DOCUMENT ID:HN.607989252794877344
MEDIA ID:305953CF957279F0ECA0E2498212E0505ADBD0F1
SOURCE DOMAIN:www.bestcoloringpagesforkids.com
SOURCE URL:http://www.bestcoloringpagesforkids.com/tweety-bird-coloring-pages.html
THUMBNAIL WIDTH:109
THUMBNAIL HEIGHT:109
ReadmoreFree Printable Tweety Bird Coloring Pages For Kids

kids coloring pages printable kids coloring pages printable 2 kids

kids coloring pages printable kids coloring pages printable 2 kids

This Image was ranked 2 by Bing.com for keyword Child Coloring , You will find this result http://www.bing.com/images/search?q=Child+Coloring+&qft=+filterui:imagesize-large&count=100.

IMAGE META DATA FOR kids coloring pages printable kids coloring pages printable 2 kids \'s IMAGE
TITLE:kids coloring pages printable kids coloring pages printable 2 kids
IMAGE URL:http://www.coloringnow.com/images/kids-coloring-pages-printable/kids-coloring-pages-printable.gif
THUMBNAIL:http://ts4.mm.bing.net/th?id=HN.608042072301043858&w=113&h=148&c=7&rs=1&pid=1.7
IMAGE SIZE:86 kB
IMAGE WIDTH:1000
IMAGE HEIGHT:1303
DOCUMENT ID:HN.608042072301043858
MEDIA ID:BC9E1E5B04FA1C690D0442521A837FBAB8B8C828
SOURCE DOMAIN:www.coloringnow.com
SOURCE URL:http://www.coloringnow.com/kids-coloring-pages-printable/
THUMBNAIL WIDTH:113
THUMBNAIL HEIGHT:113
Readmorekids coloring pages printable kids coloring pages printable 2 kids

HANSEL AND GRETEL

HANSEL AND GRETEL

Hard by a great forest dwelt a poor wood-cutter with his wife and his two children. The boy was called Hansel and the girl Gretel. He had little to bite and to break, and once when great dearth fell on the land, he could no longer procure even daily bread. Now when he thought over this by night in his bed, and tossed about in his anxiety, he groaned and said to his wife: ‘What is to become of us? How are we to feed our poor children, when we no longer have anything even for ourselves?’ ‘I’ll tell you what, husband,’ answered the woman, ‘early tomorrow morning we will take the children out into the forest to where it is the thickest; there we will light a fire for them, and give each of them one more piece of bread, and then we will go to our work and leave them alone. They will not find the way home again, and we shall be rid of them.’ ‘No, wife,’ said the man, ‘I will not do that; how can I bear to leave my children alone in the forest?— the wild animals would soon come and tear them to pieces.’ ‘O, you fool!’ said she, ‘then we must all four die of hunger, you may as well plane the planks for our coffins,’ and she left him no peace until he consented. ‘But


I feel very sorry for the poor children, all the same,’ said the man.
The two children had also not been able to sleep for hunger, and had heard what their stepmother had said to their father. Gretel wept bitter tears, and said to Hansel:
‘Now all is over with us.’ ‘Be quiet, Gretel,’ said Hansel,
‘do not distress yourself, I will soon find a way to help us.’ And when the old folks had fallen asleep, he got up, put on his little coat, opened the door below, and crept outside. The moon shone brightly, and the white pebbles which lay in front of the house glittered like real silver pennies. Hansel stooped and stuffed the little pocket of his coat with as many as he could get in. Then he went back and said to Gretel: ‘Be comforted, dear little sister, and sleep in peace, God will not forsake us,’ and he lay down again in his bed. When day dawned, but before the sun had risen, the woman came and awoke the two children, saying: ‘Get up, you sluggards! we are going into the forest to fetch wood.’ She gave each a little piece of bread, and said: ‘There is something for your dinner, but do not eat it up before then, for you will get nothing else.’ Gretel took the bread under her apron, as Hansel had the pebbles in his pocket. Then they all set out together on the way to the forest. When they had walked a short time, Hansel


stood still and peeped back at the house, and did so again and again. His father said: ‘Hansel, what are you looking at there and staying behind for? Pay attention, and do not forget how to use your legs.’ ‘Ah, father,’ said Hansel, ‘I am looking at my little white cat, which is sitting up on the roof, and wants to say goodbye to me.’ The wife said:
‘Fool, that is not your little cat, that is the morning sun which is shining on the chimneys.’ Hansel, however, had not been looking back at the cat, but had been constantly throwing one of the white pebble-stones out of his pocket on the road.
When they had reached the middle of the forest, the father said: ‘Now, children, pile up some wood, and I will light a fire that you may not be cold.’ Hansel and Gretel gathered brushwood together, as high as a little hill. The brushwood was lighted, and when the flames were burning very high, the woman said: ‘Now, children, lay yourselves down by the fire and rest, we will go into the forest and cut some wood. When we have done, we will come back and fetch you away.’
Hansel and Gretel sat by the fire, and when noon came, each ate a little piece of bread, and as they heard the strokes of the wood-axe they believed that their father was near. It was not the axe, however, but a branch which he


had fastened to a withered tree which the wind was blowing backwards and forwards. And as they had been sitting such a long time, their eyes closed with fatigue, and they fell fast asleep. When at last they awoke, it was already dark night. Gretel began to cry and said: ‘How are we to get out of the forest now?’ But Hansel comforted her and said: ‘Just wait a little, until the moon has risen, and then we will soon find the way.’ And when the full moon had risen, Hansel took his little sister by the hand, and followed the pebbles which shone like newly-coined silver pieces, and showed them the way.
They walked the whole night long, and by break of day came once more to their father’s house. They knocked at the door, and when the woman opened it and saw that it was Hansel and Gretel, she said: ‘You naughty children, why have you slept so long in the forest?—we thought you were never coming back at all!’ The father, however, rejoiced, for it had cut him to the heart to leave them behind alone.
Not long afterwards, there was once more great dearth throughout the land, and the children heard their mother saying at night to their father: ‘Everything is eaten again, we have one half loaf left, and that is the end. The children must go, we will take them farther into the


wood, so that they will not find their way out again; there is no other means of saving ourselves!’ The man’s heart was heavy, and he thought: ‘It would be better for you to share the last mouthful with your children.’ The woman, however, would listen to nothing that he had to say, but scolded and reproached him. He who says A must say B, likewise, and as he had yielded the first time, he had to do so a second time also.
The children, however, were still awake and had heard the conversation. When the old folks were asleep, Hansel again got up, and wanted to go out and pick up pebbles as he had done before, but the woman had locked the door, and Hansel could not get out. Nevertheless he comforted his little sister, and said: ‘Do not cry, Gretel, go to sleep quietly, the good God will help us.’
Early in the morning came the woman, and took the children out of their beds. Their piece of bread was given to them, but it was still smaller than the time before. On the way into the forest Hansel crumbled his in his pocket, and often stood still and threw a morsel on the ground.
‘Hansel, why do you stop and look round?’ said the father,
‘go on.’ ‘I am looking back at my little pigeon which is sitting on the roof, and wants to say goodbye to me,’ answered Hansel. ‘Fool!’ said the woman, ‘that is not your


little pigeon, that is the morning sun that is shining on the chimney.’ Hansel, however little by little, threw all the crumbs on the path.
The woman led the children still deeper into the forest, where they had never in their lives been before. Then a great fire was again made, and the mother said: ‘Just sit there, you children, and when you are tired you may sleep a little; we are going into the forest to cut wood, and in the evening when we are done, we will come and fetch you away.’ When it was noon, Gretel shared her piece of bread with Hansel, who had scattered his by the way. Then they fell asleep and evening passed, but no one came to the poor children. They did not awake until it was dark night, and Hansel comforted his little sister and said: ‘Just wait, Gretel, until the moon rises, and then we shall see the crumbs of bread which I have strewn about, they will show us our way home again.’ When the moon came they set out, but they found no crumbs, for the many thousands of birds which fly about in the woods and fields had picked them all up. Hansel said to Gretel: ‘We shall soon find the way,’ but they did not find it. They walked the whole night and all the next day too from morning till evening, but they did not get out of the forest, and were very hungry, for they had nothing to eat but two or three


berries, which grew on the ground. And as they were so weary that their legs would carry them no longer, they lay down beneath a tree and fell asleep.
It was now three mornings since they had left their father’s house. They began to walk again, but they always came deeper into the forest, and if help did not come soon, they must die of hunger and weariness. When it was mid-day, they saw a beautiful snow-white bird sitting on a bough, which sang so delightfully that they stood still and listened to it. And when its song was over, it spread its wings and flew away before them, and they followed it until they reached a little house, on the roof of which it alighted; and when they approached the little house they saw that it was built of bread and covered with cakes, but that the windows were of clear sugar. ‘We will set to work on that,’ said Hansel, ‘and have a good meal. I will eat a bit of the roof, and you Gretel, can eat some of the window, it will taste sweet.’ Hansel reached up above, and broke off a little of the roof to try how it tasted, and Gretel leant against the window and nibbled at the panes. Then a soft voice cried from the parlour:
’Nibble, nibble, gnaw,
Who is nibbling at my little house?’

The children answered:


’The wind, the wind, The heaven-born wind,’

and went on eating without disturbing themselves. Hansel, who liked the taste of the roof, tore down a great piece of it, and Gretel pushed out the whole of one round window-pane, sat down, and enjoyed herself with it. Suddenly the door opened, and a woman as old as the hills, who supported herself on crutches, came creeping out. Hansel and Gretel were so terribly frightened that they let fall what they had in their hands. The old woman, however, nodded her head, and said: ‘Oh, you dear children, who has brought you here? do come in, and stay with me. No harm shall happen to you.’ She took them both by the hand, and led them into her little house. Then good food was set before them, milk and pancakes, with sugar, apples, and nuts. Afterwards two pretty little beds were covered with clean white linen, and Hansel and Gretel lay down in them, and thought they were in heaven.
The old woman had only pretended to be so kind; she was in reality a wicked witch, who lay in wait for children, and had only built the little house of bread in order to entice them there. When a child fell into her power, she killed it, cooked and ate it, and that was a feast
eBook brought to you by

Grimms’ Fairy Tales
Create, view, and edit PDF. Download the free trial version.


day with her. Witches have red eyes, and cannot see far, but they have a keen scent like the beasts, and are aware when human beings draw near. When Hansel and Gretel came into her neighbourhood, she laughed with malice, and said mockingly: ‘I have them, they shall not escape me again!’ Early in the morning before the children were awake, she was already up, and when she saw both of them sleeping and looking so pretty, with their plump and rosy cheeks she muttered to herself: ‘That will be a dainty mouthful!’ Then she seized Hansel with her shrivelled hand, carried him into a little stable, and locked him in behind a grated door. Scream as he might, it would not help him. Then she went to Gretel, shook her till she awoke, and cried: ‘Get up, lazy thing, fetch some water, and cook something good for your brother, he is in the stable outside, and is to be made fat. When he is fat, I will eat him.’ Gretel began to weep bitterly, but it was all in vain, for she was forced to do what the wicked witch commanded.
And now the best food was cooked for poor Hansel, but Gretel got nothing but crab-shells. Every morning the woman crept to the little stable, and cried: ‘Hansel, stretch out your finger that I may feel if you will soon be fat.’ Hansel, however, stretched out a little bone to her, and


the old woman, who had dim eyes, could not see it, and thought it was Hansel’s finger, and was astonished that there was no way of fattening him. When four weeks had gone by, and Hansel still remained thin, she was seized with impatience and would not wait any longer. ‘Now, then, Gretel,’ she cried to the girl, ‘stir yourself, and bring some water. Let Hansel be fat or lean, tomorrow I will kill him, and cook him.’ Ah, how the poor little sister did lament when she had to fetch the water, and how her tears did flow down her cheeks! ‘Dear God, do help us,’ she cried. ‘If the wild beasts in the forest had but devoured us, we should at any rate have died together.’ ‘Just keep your noise to yourself,’ said the old woman, ‘it won’t help you at all.’
Early in the morning, Gretel had to go out and hang up the cauldron with the water, and light the fire. ‘We will bake first,’ said the old woman, ‘I have already heated the oven, and kneaded the dough.’ She pushed poor Gretel out to the oven, from which flames of fire were already darting. ‘Creep in,’ said the witch, ‘and see if it is properly heated, so that we can put the bread in.’ And once Gretel was inside, she intended to shut the oven and let her bake in it, and then she would eat her, too. But Gretel saw what she had in mind, and said: ‘I do not know how I am


to do it; how do I get in?’ ‘Silly goose,’ said the old woman. ‘The door is big enough; just look, I can get in myself!’ and she crept up and thrust her head into the oven. Then Gretel gave her a push that drove her far into it, and shut the iron door, and fastened the bolt. Oh! then she began to howl quite horribly, but Gretel ran away and the godless witch was miserably burnt to death.
Gretel, however, ran like lightning to Hansel, opened his little stable, and cried: ‘Hansel, we are saved! The old witch is dead!’ Then Hansel sprang like a bird from its cage when the door is opened. How they did rejoice and embrace each other, and dance about and kiss each other! And as they had no longer any need to fear her, they went into the witch’s house, and in every corner there stood chests full of pearls and jewels. ‘These are far better than pebbles!’ said Hansel, and thrust into his pockets whatever could be got in, and Gretel said: ‘I, too, will take something home with me,’ and filled her pinafore full.
‘But now we must be off,’ said Hansel, ‘that we may get out of the witch’s forest.’
When they had walked for two hours, they came to a great stretch of water. ‘We cannot cross,’ said Hansel, ‘I see no foot-plank, and no bridge.’ ‘And there is also no


ferry,’ answered Gretel, ‘but a white duck is swimming there: if I ask her, she will help us over.’ Then she cried:
’Little duck, little duck, dost thou see, Hansel and Gretel are waiting for thee? There’s never a plank, or bridge in sight, Take us across on thy back so white.’

The duck came to them, and Hansel seated himself on its back, and told his sister to sit by him. ‘No,’ replied Gretel, ‘that will be too heavy for the little duck; she shall take us across, one after the other.’ The good little duck did so, and when they were once safely across and had walked for a short time, the forest seemed to be more and more familiar to them, and at length they saw from afar their father’s house. Then they began to run, rushed into the parlour, and threw themselves round their father’s neck. The man had not known one happy hour since he had left the children in the forest; the woman, however, was dead. Gretel emptied her pinafore until pearls and precious stones ran about the room, and Hansel threw one handful after another out of his pocket to add to them. Then all anxiety was at an end, and they lived together in perfect happiness. My tale is done, there runs a mouse; whosoever catches it, may make himself a big fur cap out of it.
ReadmoreHANSEL AND GRETEL

telaga bidadari

Dahulu kala, ada seorang pemuda yang tampan dan gagah. Ia bernama Awang Sukma.
Awang Sukma mengembara sampai ke tengah hutan belantara. Ia tertegun melihat aneka
macam kehidupan di dalam hutan. Ia membangun sebuah rumah pohon di sebuah dahan
pohon yang sangat besar. Kehidupan di hutan rukun dan damai. Setelah lama tinggal di
hutan, Awang Sukma diangkat menjadi penguasa daerah itu dan bergelar
Datu. Sebulan sekali, Awang Sukma berkeliling daerah
kekuasaannya dan sampailah ia di sebuah telaga yang jernih
dan bening. Telaga tersebut terletak di bawah pohon yang
rindang dengan buah-buahan yang banyak. Berbagai jenis
burung dan serangga hidup dengan riangnya. "Hmm, alangkah
indahnya telaga ini. Ternyata hutan ini menyimpan keindahan
yang luar biasa," gumam Datu Awang Sukma.
Keesokan harinya, ketika Datu Awang Sukma sedang meniup
serulingnya, ia mendengar suara riuh rendah di telaga. Di
sela-sela tumpukan batu yang bercelah, Datu Awang Sukma
mengintip ke arah telaga. Betapa terkejutnya Awang Sukma
ketika melihat ada 7 orang gadis cantik sedang bermain air.
"Mungkinkah mereka itu para bidadari?" pikir Awang Sukma.
Tujuh gadis cantik itu tidak
sadar jika mereka sedang diperhatikan dan tidak menghiraukan selendang mereka yang
digunakan untuk terbang, bertebaran di sekitar telaga. Salah satu selendang tersebut
terletak di dekat Awang Sukma. "Wah, ini kesempatan yang baik untuk mendapatkan
selendang di pohon itu," gumam Datu Awang Sukma.
Mendengar suara dedaunan, para putri terkejut dan segera mengambil selendang masingmasing.
Ketika ketujuh putri tersebut ingin terbang, ternyata ada salah seorang putri
yang tidak menemukan pakaiannya. Ia telah ditinggal oleh keenam kakaknya. Saat itu,
Datu Awang Sukma segera keluar dari persembunyiannya. "Jangan takut tuan putri,
hamba akan menolong asalkan tuan putri sudi tinggal bersama hamba," bujuk Datu Awang
Sukma. Putri Bungsu masih ragu menerima uluran tangan Datu Awang Sukma. Namun
karena tidak ada orang lain maka tidak ada jalan lain untuk Putri Bungsu kecuali menerima
pertolongan Awang Sukma.
Datu Awang Sukma sangat mengagumi kecantikan Putri Bungsu. Demikian juga dengan
Putri Bungsu. Ia merasa bahagia berada di dekat seorang yang tampan dan gagah perkasa.
Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi suami istri. Setahun kemudian lahirlah
seorang bayi perempuan yang cantik dan diberi nama Kumalasari. Kehidupan keluarga Datu
Awang Sukma sangat bahagia.
Datu Awang Sukma sangat mengagumi kecantikan Putri Bungsu. Demikian juga dengan
Putri Bungsu. Ia merasa bahagia berada di dekat seorang yang tampan dan gagah perkasa.
Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi suami istri. Setahun kemudian lahirlah
seorang bayi perempuan yang cantik dan diberi nama Kumalasari. Kehidupan keluarga Datu
Awang Sukma sangat bahagia.
Namun, pada suatu hari seekor ayam hitam naik ke atas lumbung dan mengais padi di atas
permukaan lumbung. Putri Bungsu berusaha mengusir ayam tersebut. Tiba-tiba matanya
tertuju pada sebuah bumbung bambu yang tergeletak di bekas kaisan ayam. "Apa kirakira
isinya ya?" pikir Putri Bungsu. Ketika bumbung dibuka, Putri Bungsu terkejut dan
berteriak gembira. "Ini selendangku!, seru Putri Bungsu. Selendang itu pun didekapnya
erat-erat. Perasaan kesal dan jengkel tertuju pada suaminya. Tetapi ia pun sangat sayang
pada suaminya.
Akhirnya Putri Bungsu membulatkan tekadnya untuk kembali ke kahyangan. "Kini saatnya
aku harus kembali!," katanya dalam hati. Putri Bungsu segera mengenakan
selendangnya sambil menggendong bayinya. Datu Awang
Sukma terpana melihat kejadian itu. Ia langsung mendekat
dan minta maaf atas tindakan yang tidak terpuji yaitu
menyembunyikan selendang Putri Bungsu. Datu Awang Sukma
menyadari bahwa perpisahan tidak bisa dielakkan. "Kanda,
dinda mohon peliharalah Kumalasari dengan baik," kata Putri
Bungsu kepada Datu Awang Sukma." Pandangan Datu Awang Sukma
menerawang kosong ke angkasa. "Jika anak kita merindukan dinda, ambillah tujuh biji
kemiri, dan masukkan ke dalam bakul yang digoncang-goncangkan dan iringilah dengan
lantunan seruling. Pasti dinda akan segera datang menemuinya," ujar Putri Bungsu.
Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya dan seketika
terbang ke kahyangan. Datu Awang Sukma menatap sedih
dan bersumpah untuk melarang anak keturunannya
memelihara ayam hitam yang dia anggap membawa
malapetaka.
HIKMAH :
Jika kita menginginkan sesuatu sebaiknya dengan cara yang baik dan halal. Kita
tidak boleh mencuri atau mengambil barang/harta milik orang lain karena suatu saat
kita akan mendapatkan balasannya.
kisah lain :


Readmoretelaga bidadari

ali baba dan 40 penyamun

Dahulu kala, dikota Persia, hidup 2 orang bersaudara yang bernama Kasim dan Alibaba.
Alibaba adalah adik Kasim yang hidupnya miskin dan tinggal di daerah pegunungan. Ia
mengandalkan hidupnya dari penjualan kayu bakar yang dikumpulkannya. Berbeda dengan
abangnya, Kasim, seorang yang kaya raya tetapi serakah dan tidak pernah mau
memikirkan kehidupan adiknya.
Suatu hari, ketika Alibaba pulang dari mengumpulkan kayu bakar, ia melihat segerombol
penyamun yang berkuda. Alibaba segera bersembunyi karena takut jika ia terlihat, ia
akan dibunuh. Dari tempat persembunyiannya, Alibaba memperhatikan para
penyamun yang sedang sibuk menurunkan harta rampokannya
dari kuda mereka. Kepala penyamun tiba-tiba berteriak,
"Alakazam ! Buka!..". Pintu gua yang ada di depan mereka
terbuka perlahan-lahan. Setelah itu mereka segera
memasukkan seluruh harta rampokan mereka. "Alakazam !
tutup! " teriak kepala penyamun, pintu gua pun tertutup.
Setelah para penyamun pergi, Alibaba memberanikan diri keluar dari tempat
sembunyinya. Ia mendekati pintu gua tersebut dan meniru teriakan kepala penyamun
tadi. "Alakazam! Buka!.." pintu gua yang terbuat dari batu itu
terbuka. "Wah! Hebat!" teriak Alibaba sambil terpana
sebentar karena melihat harta yang bertumpuk-tumpuk
seperti gunung. "Gunungan harta ini akan Aku ambil sedikit,
semoga aku tak miskin lagi, dan aku akan membantu
tetanggaku yang kesusahan". Setelah mengarungkan harta dan
emas tersebut, Alibaba segera pulang setelah sebelumnya menutup pintu gua. Istri
Alibaba sangat terkejut melihat barang yang dibawa Alibaba. Alibaba kemudian bercerita
pada istrinya apa yang baru saja dialaminya. "Uang ini sangat banyak! bagaimana jika kita
bagikan kepada orang-orang yang kesusahan.." ujar istri Alibaba. Karena terlalu banyak,
uang emas tersebut tidak dapat dihitung Alibaba dan istrinya. Akhirnya mereka sepakat
untuk meminjam kendi sebagai timbangan uang emas kepada saudaranya, Kasim. Istri
Alibaba segera pergi meminjam kendi kepada istri Kasim. Istri Kasim, seorang yang
pencuriga, sehingga ketika ia memberikan kendinya, ia mengoleskan minyak yang sangat
lengket di dasar kendi.
Keesokannnya, setelah kendi dikembalikan, ternyata di dasar kendi ada sesuatu yang
berkilau. Istri Kasim segera memanggil suaminya dan memberitahu suaminya bahwa di
dasar kendi ada uang emas yang melekat. Kasim segera pergi ke rumah Alibaba untuk
menanyakan hal tersebut. Setelah semuanya diceritakan Alibaba, Kasim segera kembali
ke rumahnya untuk mempersiapkan kuda-kudanya. Ia pergi ke gua harta dengan membawa
20 ekor keledai. Setibanya di depan gua, ia berteriak "Alakazam! Buka!", pintu batu gua
bergerak terbuka. Kasim segera masuk dan langsung mengarungkan emas dan harta yang
ada di alam gua sebanyak-banyaknya. Ketika ia hendak keluar, Kasim lupa mantra untuk
membuka pintu, ia berteriak apa saja dan
mulai ketakutan. Tiba-tiba pintu gua bergerak, Kasim
merasa lega. Tapi ketika ia mau keluar, para penyamun
sudah berada di luar, mereka sama-sama terkejut. "Hei
maling! Tangkap dia, bunuh!" teriak kepala penyamun.
"Tolong! saya jangan dibunuh", mohon Kasim. Para
penyamun yang kejam tidak memberi ampun kepada
Kasim. Ia segera dibunuh.
Istri Kasim yang menunggu di rumah mulai kuatir karena sudah seharian Kasim tidak
kunjung pulang. Akhirnya ia meminta bantuan Alibaba untuk menyusul saudaranya
tersebut. Alibaba segera pergi ke gua harta. Disana ia sangat terkejut karena mendapati
tubuh kakaknya sudah terpotong. Setibanya dirumah, istri Kasim menangis sejadi-jadinya.
Untuk membantu kakak iparnya itu Alibaba memberikan sekantung uang emas kepadanya.
Istri Kasim segera berhenti menangis dan tersenyum, ia sudah lupa akan nasib suaminya
yang malang. Alibaba membawa tubuh Kasim ke tukang sepatu untuk menjahitnya kembali
seperti semula. Setelah selesai, Alibaba memberikan upah beberapa uang emas.
Dilain tempat, di gua harta, para penyamun terkejut, karena mayat Kasim sudah tidak ada
lagi. "Tak salah lagi, pasti ada orang lain yang tahu tentang rahasia gua ini, ayo kita cari
dan bunuh dia!" kata sang kepala penyamun. Merekapun mulai berkeliling pelosok kota.
Ketika bertemu dengan seorang tukang sepatu, mereka bertanya, "Apakah akhir-akhir ini
ada orang yang kaya mendadak ?". "Akulah orang itu, karena setelah menjahit mayat yang
terpotong, aku menjadi orang kaya". "Apa! Mayat! Siapa yang memintamu melakukan itu?"
Tanya mereka. "Tolong antarkan kami padanya!".
Setelah menerima uang dari penyamun, tukang sepatu
mengantar mereka ke rumah Alibaba. Si penyamun segera
memberi tanda silang dipintu rumah Alibaba. "Aku akan
melaporkan pada ketua, dan nanti malam kami akan datang
untuk membunuhnya," kata si penyamun. Tetangga Alibaba,
Morijana yang baru pulang berbelanja melihat dan
mendengar percakapan para penyamun.
Malam harinya, Alibaba didatangi seorang penyamun yang menyamar menjadi seorang
pedagang minyak yang kemalaman dan memohon untuk menginap sehari di rumahnya.
Alibaba yang baik hati mempersilakan tamunya masuk dan memperlakukannya dengan baik.
Ia tidak mengenali wajah si kepala penyamun. Morijana, tetangga Alibaba yang sedang
berada di luar rumah, melihat dan mengenali wajah penyamun tersebut.
Ia berpikir keras bagaimana cara untuk memberitahu
Alibaba. Akhirnya ia mempunyai ide, dengan menyamar
sebagai seorang penari. Ia pergi ke rumah Alibaba untuk
menari. Ketika Alibaba, istri dan tamunya sedang
menonton tarian, Morijana dengan cepat melemparkan
pedang kecil yang sengaja diselipkannya di bajunya ke
dada tamu Alibaba.
Alibaba dan istrinya sangat terkejut, sebelum Alibaba bertanya, Morijana membuka
samarannya dan segera menceritakan semua yang telah dilihat dan didengarnya.
"Morijana, engkau telah menyelamatkan nyawa kami, terima kasih". Setelah semuanya
berlalu, Alibaba membagikan uang peninggalan para penyamun kepada orang-orang miskin
dan yang sangat memerlukannya.
Readmoreali baba dan 40 penyamun

petualangan tom sawyer

Tom Sawyer adalah seorang anak laki-laki yang sangat
menyukai petualangan. Pada suatu malam ia melarikan diri
dari rumah, lalu bersama temannya yang bernama Huck
pergi ke pemakaman. "Hei, Huck! Kalau kita membawa
kucing yang mati dan menguburnya, katanya kutil kita bisa
diambil." "Benar. Serahkan saja padaku! Masa'sih begitu
saja takut."
"Hei , tunggu! Ada orang yang datang! Tom dan Huck segera bersembunyi. "Bukankah itu
Dokter dan Kakek Peter? Dan itu si Indian Joe..." Kemudian Dokter dan Kakek Petter
mulai bertengkar karena masalah uang. Untuk mendapatkan mayat, Dokter harus
melakukan penggaliannya berdua. Lalu Kakek Petter mulai menaikkan harga, tetapi Dokter
menolak. Kemudian Kakek Petter dipukul oleh Dokter hingga terjatuh. Setelah itu, si
Indian Joe memungut pisau yang dibawa Kakek Petter dan melompat menyerang Dokter.
Brukk!
Si Indian Joe membunuh Dokter, lalu pergi membawa lari uang itu. Keesokan harinya
Dokter ditemukan meninggal dunia di pemakaman itu, dan orang-orang kota mulai
berkumpul. "Ini adalah pisau Kakek Petter. Jadi, Kakek yang membunuh Dokter." "A... aku
tidak bisa mengingatnya dengan jelas... "Apa!? Aku telah melihat Kakek Petter membunuh
Dokter." "Memang benar, pembunuhnya adalah Kakek Petter.
Kemudian Kakek Petter ditangkap dan dimasukkan ke
dalam penjara. "Wah... padahal pembunuh yang
sebenarnya adalah si Indian Joe." "Tetapi, kalau kita
mengatakan hal itu, si Indian Joe akan balas dendam dan
membunuh kita..." Beberapa hari telah berlalu, dan semua
orang telah melupakan kejadian itu. Pada suatu hari Tom
bertengkar dengan Becky, gadis yang disukain
ya di sekolah. "Apa-apaan. Aku benci sama Tom."
Tom yang dimarahi oleh Becky merasa patah hati. Lalu temannya yang bernama Joe
berkata, "Baik di rumah maupun di sekolah aku sudah tak diperlukan. Tom, kita
melarikan diri saja, yuk!" Tom dan Joe mengajak Huck,
mereka bermaksud hidup di sebuah pulau di tengahtengah
sungai. "Yahooo! Kalau begini, kita seperti bajak
laut, ya! "Kita tak perlu pergi ke sekolah." Ketiganya
menyeberangi sungai dengan rakit yang dibuatnya, dan
mereka seharian bermain. Ketika mulai lapar, mereka pun
makan telur goreng dan apel.
Keesokan harinya ketika mereka sedang bermain, tiba-tiba.... duaaar! Air sungai
menyembur ke atas. "Oh, itu adalah isyarat dari seseorang yang sedang mencari orang
yang tenggelam." Orang-orang kota mengira Tom dan Joe tenggelam di sungai, lalu
mereka pun datang untuk mencari. "Mungkin saat ini Bibi Polly sedang
mengkhawatirkanku." Di tengah malam Tom berenang menyeberangi sungai, kembali ke
rumahnya untuk melihat keadaan. Ketika Tom mengintip dari jendela, dilihatnya Bibi Polly
dan Ibu Joe sedang menangis. "Semuanya meninggal dunia, ya..."
Kemudian Tom kembali ke pulau dan menceritakan hal itu pada Huck dan Joe. Mereka
sangat terkejut. Akhirnya, mereka sepakat untuk pulang pada hari upacara pemakaman
mereka. "Wah, Tom! Kamu pulang, ya.!" "Joe, syukurlah kamu pulang dengan selamat."
Semuanya gembira atas kepulangan mereka.
Beberapa hari kemudian pengadilan Kakek Petter dimulai. Di pengadilan Kakek Petter
ditetapkan sebagai pembunuh, dan ia akan dihukum mati. Untuk membebaskan Kakek
Petter, Tom memberanikan diri menjadi saksi. "Pembunuh yang sebenarnya adalah si
Indian Joe itu. Kami telah melihat kejadian yang sesungguhnya." Si Indian Joe yang
mendengar hal ini segera melompat dari jendela. Praaang! Ia melarikan diri. Kakek Petter
merasa sangat gembira karena jiwanya tertolong. "Tom, terima kasih banyak. Begitu
pengadilan berakhir, kota kembali pada kehidupannya semula. Pada suatu hari Huck dan
Tom pergi ke sebuah rumah yang tak berpenghuni. Ketika keduanya sedang mencari
sesuatu di tingkat dua, tiba-tiba seseorang masuk ke dalam rumah. "Ooh! Si Indian Joe
bersama sahabatnya, si pencuri!"
Untuk menyembunyikan uang yang telah dicurinya, para pencuri itu mulai menggali lantai.
Dan... criing! Mereka mengeluarkan kotak emas. "Hyaaa! Harta karun yang banyak!"
"Baiklah, kita pindahkan persembunyiannya lalu kita beri tanda dengan kayu ini." Si Indian
Joe juga mulai naik ke tingkat dua, untuk memeriksa. "Bagaimana, nih? Kalau ketahuan,
pasti kita dibunuh olehnya..." Praaak! Gedebug! Karena papan tangganya sudah lapuk, di
tengah-tengah tangga si Indian Joe terjatuh. Tom dan Huck pun merasa lega.
Di lain pihak Tom, Becky, dan teman-temannya pergi berpiknik bersama-sama. Tetapi,
Tom dan Becky tersesat di sebuah goa. Mereka tak tahu jalan pulang. Tiba-tiba,
muncul asap membumbung mengelilingi keduanya. "Kyaaa!
Tom, aku takut!" "Oh, ada seseorang!" Tiba-tiba
muncullah sosok Indian Joe di depan Tom dan Becky.
Saking terkejutnya, sampai-sampai keduanya sulit untuk
bemafas. "Waaaw! Ayo, lari!" Dengan cepat, Tom dan
Becky berlari hingga keluar dari dalam goa. Akhimya
mereka pulang.
Bibi Polly yang khawatir sangat gembira dengan kepulangan kedua anak itu. Ketika Tom
pergi bermain ke rumah Becky, ayah Becky berkata, "Tom karena goa itu berbahaya,
sebaiknya ditutup saja." Ya... tetapi di situ ada Indian Joe. Ketika semuanya pergi ke
sana, ternyata Indian Joe jatuh pingsan di pintu masuk goa. la tersesat. Kemudian mereka
menutup pintu masuk goa, dan menjebloskan Indian Joe ke dalam penjara. "Temyata
Indian Joe menyembunyikan emasnya di atas batu yang terletak di dalam goa ini dan telah
diberi tanda. " Tom dan Huck masuk ke dalam goa dengan melewati jalan rahasia. Ketika
mereka menggali batu yang sudah diberi tanda, mereka melihat emas yang disembunyikan
kedua orang pencuri itu.
"Horee dengan harta ini, kita akan menjadi kaya!" Saat Tom dan Huck pulang, Nyonya
Douglas yang telah ditolong oleh Huck mengadakan pesta untuk menyambut mereka.
"Petualangan Tom Sawyer" adalah cerita yang diangkat dari kisah di Mississipi, Amerika.
Menceritakan tentang pemuda nakal, bernama Tom dan sahabatnya, Huck.
Readmorepetualangan tom sawyer

My Name is Chary to coloring - Names coloring


My Name is Chary to coloring - Names coloring

Coloring pages, coloring paint, coloring pages for children, school pictures, didactic drawings coloring drawings for kids, girls coloring, drawings to print, print and color
ReadmoreMy Name is Chary to coloring - Names coloring